Resensi Buku# KISAH MORI MELAWAN AGRESI Resensor: Yudhie Haryono | CEO Nusantara Centre.
Judul Asli: Kerajaan Mori Sejarah Dari Sulawesi Tengah.
Penulis: Edward L. Poelinggomang.
ISBN: 979.3731.303.
Ukuran: 14x21cm
Tebal: 280 hlm+xvi.
Harga: Rp.40.000,-
Berat: 320 g
Kulit Muka: Soft Cover
Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta.
Tahun: 2008
Bahasa: Indonesia
Sudah tengah Januari. Gerimis siang masih menderas saat kopi tubruk di kafe Dopamin tersaji. Iklim di republik memang makin tidak tak terkenali, berbeda dengan 20 tahun lalu saat kita mudah menerka kapan hari hujan dan kapan bulan kering.
Siang itu, saya meneguk kopi dan bersenda bersama kenalan baru bernama Murdan Uun Marunduh, seorang pensiunan yang berdomisili di Jakarta, tetapi berasal dari "suku mori" di kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah.
Tuan Murdan berencana membuat buku biografi raja dan tokoh pejuang yang berasal dari daerahnya. Raja ini gugur dalam perang melawan Belanda di Benteng Wulanderi tanggal 17 Agustus 1907.
Beliau adalah raja kerajaan Mori bernama Mokole Marunduh Datu Ri Tana, Mokole Wawa Inia, Raja Mori XI, 1870. Tentu, ini kisah yang unik dan menarik. Mengapa? Karena jarang kita membaca kisah raja lokal yang melawan penjajah Belanda sampai titik darah penghabisan.
Suku Mori dikenal sebagai masyarakat atau penduduk Kerajaan Mori yang wilayahnya terletak di pesisir timur Propinsi Sulawesi Tengah, tepatnya disekitar Teluk Tomori atau yang juga lazim disebut Teluk Tolo (diapit oleh jazirah tenggara dan jazirah timur laut pulau Sulawesi). Kerajaan Mori adalah salah satu kerajaan yang keren sejarahnya dan inspiratif keberadaannya.
Suku ini kemudian mendirikan kerajaan Mori (kuno) yang memiliki bahasa daerahnya sendiri~dengan dialek seperti Malio'a, Tiu dan Molongkuni, serta memiliki subsuku seperti Molongkuni, Roda, Ulu' Uwoi, Moiki, Watu, Ngusumbatu dan Mobahono. Mereka juga memiliki pakaian khas kebesaran adat bernama "Lambu" yang kaya makna etnomatematika.
Mereka memiliki tradisi adat yang kuat, penuh warna, pluralis dalam beragama, termasuk prosesi pernikahan seperti Tole'a, dan makanan khas seperti Winalu.
Nama atau kata "Mori" mengingatkanku pada nama keluarga (suku) di Jepang dan Italia. Nama ini merupakan nama klan di Jepang, Italia dan India yang mewariskan kalimat filosofis "memento mori" yang berarti "ingatlah bahwa kita semua akan mati." Satu frasa yang di Jawa diproyeksikan dalam kata "urip mung mampir ngombe."
Ngombe (minum) apa? Kita akan bahas pada artikel berikutnya. Semoga pembaca tertarik mengikuti kisahnya.
Setelah meneguk kopi dan menikmati kudapan singkong, Tuan Murdan memberi hadiah dan bekal buku untuk modal menulis biografi. Bukunya berjudul "Kerajaan Mori Sejarah Dari Sulawesi Tengah." Buku ini mengisahkan sejarah panjang Kerajaan Mori. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan yang berkembang sekitar abad ke-16 sampai runtuhnya. Lalu, dalam perjalanannya bergabung (integrasi) ke Indonesia.
Wilayah kerajaan ini sekarang menjadi kabupaten Morowali, Propinsi Sulawesi Tengah. Penulisnya Edward L. Poelinggomang, sejarawan yang memang memfokuskan kajian pada sejarah lokal Sulawesi dan lainnya.
Melalui buku ini, penulis diharap menelusuri perkembangan kerajaan itu dari awal hingga kini. Tentu, ini pekerjaan mulia. Sebab, menulis sejarah itu mengurai masa lalu untuk membentuk masa depan. Juga, untuk menyerap yang baik, mendelet yang buruk.
Terlebih, pada kongres ke-2 Wita Mori di Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, masyarakat Marowali secara resmi mengusulkan Raja Mori Mokole Marunduh sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).
Mereka berargumen bahwa usulan ini dimunculkan mengingat jasa, warisan, tradisi dan nilai-nilai baik yang ditinggalkan masih kuat mengakar di masyarakat. Terlebih, sampai saat ini belum ada Pahlawan Nasional dari Sulteng.(*)




