Relawan SPPG di NTT: Dulu Beli Beras 1 Kilopun Susah, Sekarang Sudah Bisa Beli Motor
Sumba Barat Daya - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh penerima manfaat siswa, ibu hamil, ibu menyusui dan balita, tetapi juga oleh warga yang terlibat sebagai pekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Salah satunya Kristina Lende, warga Desa Watu Kawula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kristina yang bekerja sebagai pencuci ompreng MBG itu mengaku kehidupannya berubah sejak bekerja di SPPG Watukaula.
“Selama saya kerja di MBG, saya sudah pernah beli motor pada tanggal 8 Februari kemarin tahun ini. Itu dari hasil kerja saya dari MBG. Dan sebelum saya kerja di MBG, saya mau beli beras 1 kilo pun, saya susah sekali,” katanya saat ditemui di dapur tempatnya bekerja, Jumat (14/2).
Sebelum bekerja di MBG, ia hanya mengandalkan penghasilan suami yang bekerja di perusahaan telasi dengan upah sekitar Rp50 ribu per hari. Ia tidak memiliki usaha lain dan tidak menerima bantuan sosial dari Pemerintahan.
“Semenjak saya kerja di MBG, saya sudah bisa beli beras 20 kilo, bahkan 50 kilo pun sudah bisa saya beli. Dan buat lauk-lauk anak-anak saya di rumah, dan buku penanya anak-anak saya di rumah,” sambung Kristina.
Motor yang ia beli digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga, termasuk anaknya yang sebelumnya berjalan kaki ke sekolah. Kristina memiliki tiga anak. Anak sulungnya yang duduk di kelas VII SMP sudah menerima MBG, sementara dua anak lainnya yang masih di bangku SD disebut akan segera mendapatkan manfaat program tersebut.
Ia menegaskan, kehadiran MBG sangat membantu perekonomian rumah tangganya. “Adanya MBG, sangat membantu sekali dalam rumah tangganya kami,” ujarnya. “Sekali lagi saya terima kasih kepada Bapak Presiden, Prabowo Subianto yang melakukan program ini ke depannya. Mudah-mudahan akan lebih maju dan lebih baik lagi,” imbuh Kristina.
Kristina juga berharap pemerintah turut memperhatikan akses bantuan sosial bagi keluarganya. Menurutnya, hasil pendataan tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. “Anehnya waktu pendataan saya dikasih masuk desil 5, terus rumah yang mewah-mewah di tetangganya saya, yang punya mobil ini yang dikasih masuk desil 1,” ujarnya.
Kristina bekerja di bagian pencucian ompreng dari pukul 10 pagi hingga pukul 8 atau 9 malam, tergantung pekerjaan selesai. Meski lelah, ia tetap bersyukur memiliki pekerjaan.
“Ya capek juga, tapi namanya kita cari uang. Namanya kita cari uang ya harus berjuang kan gitu. Daripada duduk-duduk di rumah, ngelamun bikin sakit badan,” tutupnya.




