Menempuh Perjalanan Panjang, Perantau Apresiasi Pemerintah atas Kelancaran Mudik Lebaran
Jakarta, 27 Maret 2026 – Tradisi mudik Lebaran kembali menjadi momen penuh makna bagi para perantau yang rindu berkumpul dengan keluarga. Meski dihadapkan pada lonjakan penumpang dan padatnya arus perjalanan, para pemudik mengaku tetap merasa nyaman karena tidak menemui kendala berarti.
Mereka juga mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai telah mempersiapkan sarana dan prasarana transportasi umum dengan baik.
Salah satunya diungkapkan Resky Andi (30). Setiap kali pulang ke kampung halaman, ia melalui perjalanan mudik yang sangat panjang. Pasalnya, pekerja swasta yang merantau di Jakarta sejak 2023 itu harus menempuh perjalanan dengan tiga moda transportasi sekaligus demi bisa sampai ke rumah orang tuanya di Bondowoso, Jawa Timur.
Resky memulai perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya dengan pesawat, dilanjutkan kereta api ke Jember, lalu bus menuju Bondowoso. Total biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, sekitar Rp1,65 juta untuk sekali perjalanan.
Meski demikian, ia menilai layanan transportasi umum tetap berjalan lancar dan memuaskan, sehingga tidak menemui kendala berarti selama perjalanan.
“Dari sisi pelayanan oke. Jadwal keberangkatan on time, fasilitas juga nyaman, termasuk toilet yang bersih. Baik pesawat maupun kereta kemarin penuh pemudik, tapi tidak ada penurunan pelayanan,” ujar Resky ketika ditemui di Stasiun Jember, Jawa Timur, Kamis (26/3).
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pulang kampung sudah merupakan kewajibannya sebagai perantau.
Sebagai anak kedua sekaligus anak terakhir, Resky merasa memiliki tanggung jawab emosional untuk tetap pulang, terlebih orang tuanya kini semakin menua dan sang ayah akan segera memasuki masa pensiun tahun depan. Meski hanya bisa pulang dalam waktu singkat, yakni dari H-3 hingga H+3 Lebaran, momen tersebut tetap sangat berharga baginya.
“Yah, kalau Lebaran memang mahal. Tapi demi bertemu orang tua di kampung, saya ikhlas. Toh saya hanya bisa pulang sekali setahun karena kerjaan banyak banget di Jakarta,” ujar Resky.
Cerita serupa datang dari Dewi (35), pekerja swasta di Jakarta Pusat yang telah merantau sejak 2012. Ia mengatakan perjalanan mudik kali ini terasa lancar meski mobilitas masyarakat terpantau tinggi.
Pada mudik kali ini, Dewi memilih pulang ke Banyuwangi, Jawa Timur, menggunakan kereta api Singosari kelas ekonomi sekitar lima hari sebelum Lebaran, dengan harga tiket sekitar Rp500 ribu. Perjalanan selama kurang lebih 12 jam itu ia jalani dengan cukup nyaman karena pihak operator, PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI), menurutnya, tetap memberikan pelayanan prima.
“Kereta ekonomi sekarang tempat duduknya sudah 2-2, jadi lumayan nyaman lah walaupun perjalanan jauh,” ujar Dewi.
Meski rutin pulang kampung dua kali dalam setahun, Dewi mengakui bahwa mendapatkan tiket mudik Lebaran tetap menjadi tantangan setiap tahun. Ia berharap pemerintah dapat menambah jumlah armada transportasi umum untuk mengakomodasi tingginya permintaan.
“Saya berharap armada kendaraan umum tiap Lebaran ditambah jumlahnya. Karena pemudik ini kan banyak. Supaya lebih mudah dapat tiket pulang,” harapnya.
Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode mudik Lebaran, pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan serta kualitas layanan transportasi umum bagi para pemudik.
Upaya ini diharapkan mampu menjawab tingginya kebutuhan masyarakat untuk pulang ke kampung halaman, sekaligus memastikan perjalanan mudik berlangsung aman, lancar, dan nyaman.




