BREAKING NEWS

 


Langit yang Bergemuruh di Atas Teheran

 


Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.

Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau


Malam turun perlahan di Teheran. Kota yang siang hari dipenuhi hiruk-pikuk kendaraan dan percakapan manusia itu kini berubah menjadi ruang yang lebih sunyi. Lampu-lampu jalan menyala seperti deretan bintang yang sengaja diturunkan ke bumi. Dari kejauhan tampak pegunungan gelap yang mengelilingi kota seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah peradaban tua.

Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, Reza berdiri di balkon sambil memandang langit malam. Ia adalah seorang guru bahasa yang setiap hari mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang lebih dalam daripada sekadar suara. Baginya, bahasa adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya, bahkan ketika mereka berasal dari dunia yang berbeda.

Namun malam itu, langit tidak berbicara dengan bahasa yang lembut.

Udara terasa lebih tegang dari biasanya. Angin malam yang berhembus pelan seakan membawa sesuatu yang belum sempat dipahami oleh hati manusia.

Tiba-tiba suara panjang meluncur dari kejauhan. Suara itu melesat cepat di udara seperti kilat yang tidak terlihat. Beberapa detik kemudian dentuman keras mengguncang langit dan tanah. Jendela-jendela rumah bergetar, dan beberapa burung malam terbang dengan panik meninggalkan pepohonan.

Reza terdiam.

Ia mengenali suara itu dengan sangat jelas.

Suara rudal.

Di dalam rumah, Zahra keluar dengan wajah cemas. Di belakangnya dua anak mereka berdiri dengan mata yang belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.

“Ayah, suara apa itu?” tanya putra kecilnya dengan suara yang hampir berbisik.

Reza memandang langit yang gelap. Di kejauhan tampak garis cahaya yang melintas cepat seperti api yang menari di antara bintang-bintang.

Beberapa hari terakhir dunia memang sedang berada dalam ketegangan besar. Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama sekutunya Israel terhadap beberapa wilayah strategis di Iran telah memicu gelombang balasan yang membuat langit Timur Tengah berubah menjadi panggung konflik. Di banyak tempat, rudal dan pertahanan udara saling bersahutan seperti percakapan keras antara negara-negara yang saling menantang.

Bagi sebagian orang di belahan dunia lain, peristiwa itu mungkin hanya menjadi berita yang lewat di layar televisi. Namun bagi warga kota ini, suara rudal bukan sekadar informasi. Ia adalah kenyataan yang terdengar langsung dari langit di atas rumah mereka.

Reza memegang tangan anaknya dengan lembut.

“Kadang-kadang,” katanya perlahan, “langit sedang menyampaikan sesuatu yang sulit dipahami manusia.”

Anak perempuannya menatap ayahnya dengan mata yang polos.

“Apakah langit sedang marah?”

Reza tersenyum tipis.

“Langit tidak pernah marah. Manusia yang sering lupa bagaimana menjaga kedamaian.”

Di kejauhan dentuman kembali terdengar. Kali ini lebih jauh, tetapi cukup untuk membuat kota itu terdiam beberapa saat. Beberapa tetangga keluar dari rumah mereka. Ada yang memandang langit dengan wajah cemas, ada pula yang berdoa pelan di depan pintu rumah.

Reza teringat sebuah pelajaran lama yang pernah ia baca dalam buku sejarah. Sejak awal peradaban, manusia selalu berada di antara dua jalan. Jalan pertama adalah jalan pengetahuan, seni, dan kebudayaan yang membangun kehidupan. Jalan kedua adalah jalan kekuasaan yang sering diukur melalui kekuatan senjata.

Malam itu langit seolah memperlihatkan pilihan kedua.

Namun di dalam hati Reza masih tersimpan keyakinan bahwa manusia selalu memiliki kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda.

Ia mengajak keluarganya masuk ke dalam rumah. Zahra menutup jendela sementara angin malam masih membawa gema dentuman yang semakin menjauh.

Di ruang tamu yang sederhana, Reza menyalakan lampu kecil. Cahaya hangat memenuhi ruangan itu dan perlahan mengusir kegelisahan yang tadi terasa begitu dekat.

Di rak kayu tua yang berdiri di sudut ruangan, ia mengambil sebuah buku cerita yang sudah lama menjadi teman malam anak-anaknya.

Buku itu berisi kisah-kisah tentang keberanian, persahabatan, dan harapan.

Di luar rumah, dunia mungkin sedang berbicara dengan bahasa yang keras. Negara-negara besar mengirim pesan melalui langit dengan teknologi yang mampu menghancurkan kota dalam hitungan detik. Konflik antara kekuatan global membuat banyak orang di berbagai tempat hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Namun di dalam rumah kecil itu, Reza memilih bahasa yang berbeda.

Ia membuka buku dan mulai membaca cerita dengan suara yang tenang.

Cerita tentang seorang anak yang bermimpi melihat dunia tanpa perang. Cerita tentang langit yang dipenuhi bintang dan bukan oleh jejak api dari rudal yang melintas.

Anak-anaknya mendengarkan dengan mata yang perlahan mengantuk.

Di luar, langit Teheran masih menyimpan sisa-sisa cahaya dari konflik yang belum selesai. Tetapi di dalam rumah itu, suara seorang ayah yang membacakan cerita terasa jauh lebih kuat daripada dentuman apa pun yang pernah mengguncang langit.

Reza percaya bahwa selama manusia masih mampu bercerita, masih mampu berdoa, dan masih mampu berharap, dunia tidak akan pernah benar-benar kehilangan masa depannya.

Karena suatu hari nanti, langit yang hari ini dipenuhi suara rudal mungkin akan kembali dipenuhi oleh sesuatu yang jauh lebih indah.

Suara tawa anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang akhirnya belajar hidup tanpa perang.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image

Terkini