BREAKING NEWS

 


Assipere: Harmoni Suara yang Menyulam Kebersamaan dan Meneguhkan Jati Diri

 


Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.


Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da’i Kamtibmas Polda Kepri


Di tengah percepatan zaman yang kian menempatkan teknologi sebagai pusat interaksi, tradisi lokal sering kali terpinggirkan dari ruang kesadaran masyarakat. Padahal, di sanalah tersimpan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter dan peradaban. Salah satu tradisi yang sarat makna itu adalah assipere, sebuah praktik berbalas nyanyian yang hidup dalam keseharian masyarakat dan menjadi simbol kehangatan sosial yang tidak lekang oleh waktu.

Assipere bukan sekadar aktivitas melantunkan suara, melainkan bentuk komunikasi kultural yang mempertemukan rasa, bahasa, dan kebersamaan. Seseorang memulai nyanyian dari rumahnya, lalu disahut oleh yang lain dari rumah berbeda. Bahkan, suara itu dapat mengalir dari satu kebun ke kebun lainnya, menembus batas ruang dan jarak. Dalam praktiknya, nyanyian ini bisa berlangsung dari pagi hingga sore, berlanjut ke malam, bahkan hingga fajar kembali menyapa. Waktu seakan melebur dalam harmoni yang menyatukan manusia dalam kebersamaan yang tulus.

Tradisi ini juga memiliki keterkaitan erat dengan siklus kehidupan agraris masyarakat. Assipere biasanya dilakukan pada musim jagung yang dikenal dengan ammoto Batara dan mampu Batara, serta pada musim padi atau abbasse pare. Pada masa-masa inilah masyarakat berkumpul dan bekerja bersama dalam suasana gotong royong. Assipere hadir sebagai pengiring aktivitas, menjadi pelepas lelah, penyemangat kerja, sekaligus mempererat hubungan sosial yang sarat makna.

Sebagai tradisi lisan, assipere juga memperlihatkan kekayaan estetika bahasa yang luar biasa. Berikut salah satu contoh nyanyian assipere yang hidup dalam ingatan masyarakat

Di rumah Dg Tola

Nai ana’ joka rungngang

Kebokangngang nakondoa

Ana ribulang

Lassu ri matannalloa

Artinya

Anak siapa itu yang di sebelah barat

Lebih putih dari bangau

Anak dari Ribulang

Dari matahari

Kemudian dibalas dari rumah Dg Bilang

Candi caddiko nulebong

Alusu nubbannang roda

Se’ re callannu

Accidonnu tarattu, nu

Artinya

Kecil-kecil berkulit putih

Halus bagai benang sutra

Satu letak celah

Begitu duduk tampak anggun

Contoh tersebut menunjukkan bahwa assipere bukan sekadar saling bersahutan, tetapi juga mengandung pujian, kiasan, dan kehalusan rasa yang mencerminkan kecerdasan berbahasa masyarakat. Setiap bait tidak hanya indah didengar, tetapi juga sarat makna dan nilai estetika.

Pengalaman empiris yang dirasakan sejak masa sekolah dasar di Kelara, berlanjut pada jenjang SMP di Kecamatan Kelara hingga masa SMEA di Jeneponto, memperlihatkan bahwa assipere bukan hanya tradisi yang didengar, melainkan pengalaman hidup yang membentuk kepekaan sosial. Dari tradisi ini, seseorang belajar mendengar dengan hati, merespons dengan santun, serta mengekspresikan diri melalui bahasa yang indah dan bermakna.

Dalam setiap lantunan assipere, terkandung dimensi estetika dan etika yang berjalan seiring. Tradisi ini melatih masyarakat untuk menjaga harmoni dalam komunikasi, menghargai giliran, serta membangun hubungan yang dilandasi oleh saling pengertian. Nilai-nilai tersebut menjadikan assipere sebagai fondasi budaya yang memperkuat identitas komunitas.

Namun demikian, realitas kekinian menunjukkan bahwa tradisi seperti assipere semakin jarang ditemui. Modernisasi telah menggeser pola interaksi dari yang semula hangat dan penuh nuansa menjadi lebih instan dan digital. Jika tidak ada upaya serius untuk merawat dan menghidupkannya kembali, tradisi ini berpotensi hilang dari ruang kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan assipere. Tradisi ini dapat dihidupkan kembali melalui kegiatan budaya, pendidikan berbasis kearifan lokal, maupun inovasi kreatif di era digital. Yang terpenting adalah menjaga ruhnya sebagai media kebersamaan, kepekaan sosial, dan keindahan komunikasi.

Pada akhirnya, assipere mengajarkan bahwa kemajuan tidak semata diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari kemampuan manusia dalam merawat hubungan yang bermakna. Dalam nyanyian yang saling bersahutan, tersimpan pesan mendalam bahwa kebersamaan adalah kekuatan, dan budaya adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image

Terkini