BREAKING NEWS

Krisis Air Bersih di Kokoh City Bangkalan, Warga Keluhkan Air Mati Total dan Tagihan Tetap Berjalan

 







BANGKALAN Ribuan penghuni di Perumahan Kokoh City, Desa Tebul, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, harus menelan pil pahit. Minggu (02/08)




Ironisnya, meski pasokan air yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat sering mati total dalam jangka waktu lama, warga mengaku tetap diwajibkan membayar tagihan air secara rutin.




Krisis ini berdampak masif pada hajat hidup masyarakat di kawasan pemukiman padat tersebut, saat ini, terdapat 8 cluster aktif yang dihuni warga, dengan rata-rata menampung hingga 300 rumah per cluster. Dengan estimasi total 2.400 kepala keluarga (KK), kebutuhan air bersih sangat mendesak namun berbanding terbalik dengan infrastruktur yang disediakan pihak pengembang.




Warga mengungkapkan bahwa akar masalah utama adalah ketidakseimbangan kapasitas, di seluruh area perumahan, hanya ada 4 titik sumur bor yang dipaksa menyuplai ribuan rumah tersebut, warga menilai jumlah itu sangat tidak masuk akal dan tidak memadai. 




Kekecewaan warga semakin memuncak karena pihak pelaksana proyek dilaporkan enggan melakukan penambahan sumur bor baru guna mengatasi defisit air ini.




Merespon gelombang keluhan warga, pihak pengembang/developer Perumahan Kokoh City berdalih bahwa kemacetan air yang terjadi belakangan ini murni disebabkan oleh rentetan kendala teknis operasional, bukan karena kelalaian infrastruktur jangka panjang.




Pihak developer berdalih bahwa beberapa waktu lalu sempat dilakukan perawatan berkala (maintenance) pada sumur bor, namun, dalam prosesnya terjadi kendala berupa putusnya kabel seling pompa. 




Setelah kerusakan itu diperbaiki, mereka berdalih muncul gangguan kelistrikan susulan yang menyebabkan panel listrik utama penyuplai pompa terbakar.




Pihak manajemen mengklaim saat ini seluruh kerusakan teknis tersebut telah selesai ditangani oleh tim mekanik, mereka menyatakan bahwa pasokan air kini sudah kembali normal dan meminta masyarakat mengecek langsung kestabilan distribusinya bersama pihak BUMDes Desa Tebul selaku pengelola teknis di lapangan.




Pembelaan sepihak dari developer ini dinilai warga sebagai upaya "buang badan" dan menyederhanakan masalah, perwakilan warga menegaskan bahwa perbaikan kabel seling atau panel listrik yang terbakar tidak akan pernah menyelesaikan masalah dasar di Kokoh City selama jumlah sumur bor tidak ditambah.




Selain menyengsarakan ribuan penghuni yang ada saat ini, krisis air bersih yang berlarut-larut ini dipastikan akan berdampak buruk terhadap minat masyarakat luas yang berencana menempati atau memiliki rumah di Kokoh City ke depannya. 




Citra buruk mengenai buruknya layanan pemenuhan hak konsumen ini dinilai akan menjadi bumerang bagi penjualan unit baru pihak pengembang sendiri.




Masyarakat mendesak agar segera dilakukan penambahan sumur bor baru yang proporsional dengan jumlah ribuan rumah yang ada, serta menuntut transparansi sistem penarikan iuran air oleh BUMDes yang dinilai tidak adil karena tetap menagih biaya di saat hak air warga sering mati total.




Tim

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar